Kamis, 04 November 2010

Pembelajaran penjaskes Persendian Anggota Gerak Bagian Atas

google
Pembelajaran penjaskes Persendian Anggota Gerak Bagian Atas

                           MAKALAH ILMIAH
                                  Disusun oleh :

                     SYAPARUDIN F.Ama.Pd.SD
                             NIM 819996608

UNIVERSITAS TERBUKA
2010


Pembelajaran penjaskes Persendian Anggota Gerak Bagian Atas Dan gangguan pada sistem gerak

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Rendahnya tingkat kebugaran jasmani peserta didik pada sekolah dari semua tingkat satuan pendidikan di Indonesia dapat dijadikan satu petunjuk umum bahwa mutu program pendidikan jasmani di Indonesia masih rendah. Dari survei yang dilakukan oleh Pusat Kesegaran jasmani Depdiknas terdahulu, diperoleh informasi bahwa hasil pembelajaran Penjas di sekolah secara umum hanya mampu memberikan efek kebugaran jasmani terhadap kurang lebih 15 persen dari keseluruhan populasi peserta didik. Sedangkan dalam penelusuran sederhana lewat test Sport Search (instrumen pemanduan bakat olahraga) dalam aspek yang berkaitan dengan kebugaran jasmani peserta didik,peserta didik Indonesia rata-rata hanya mencapai kategori "Rendah" (Ditjora, 2002).

Rendahnya mutu hasil pembelajaran pendidikan jasmani pun dapat disimpulkan dari keluhan masyarakat olahraga yang mengindikasikan bahwa mutu bibit olahragawan usia dini dari sekolah-sekolah kita sangat rendah. Keluhan ini dapat dikaitkan dengan dua hal.Pertama, para calon olahragawan kita memiliki kelemahan dalam hal kemampuan motoriknya, dari mulai kecepatan, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, dan kesadaran ruangnya; kedua, para calon olahragawan kita pun sekaligus memiliki kekurangan dalam hal kemampuan fisik, terutama dalam hal daya tahan umum, kekuatan, kelentukan,power, dan daya tahan otot lokal. penjas di tingkat satuan pendidikan pun diubah paradigmanya, bukan lagi sebagai alat pendidikan, melainkan dipertajam menjadi alat untuk membantu gerakan olahraga sebagai penegak postur bangsa, agar lebih banyak lagi bibit-bibit olahragawan yang bisa dipersiapkan. Akibatnya, seperti yang dapat kita saksikan sekarang, Penjas kita lebih berorientasi pada prestasi olahraga daripada sebagai proses sosialisasi dan mendidik anak melalui olahraga. Demikian kuatnya paradigma prestasi olahraga dalam Penjas kita, sehingga dewasa ini paradigma tersebut masih kuat digenggam oleh para guru Penjas

B.     Dasar permasalahan

Salah satu ciri makhluk hidup adalah gerak, gerak adalah suatu tanggapan terhadap rangsangan yang datang dari dalam maupun dari luar. Pada manusia tulang merupakan alat gerak pasif karena tak dapat bergerak sendiri. Sedangkan otot merupakan alat gerak aktif karena dapat menggerakan tulang. Hubungan tulang yang satu dengan tulang yang lainnya disebut persendian.

Adapaun permasalahan yang hendak dibahas dalam proses penyusunan makalah ini adalah “Persendian Anggota Gerak Bagian Atas”. Untuk memberikan kejelasan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam makalah ini masalahnya dibatasi pada :

1.      Persendian dan jenis-jenisnya
2.      Anggota gerak bagian atas
3.      Gangguan pada Sistem Gerak






BAB II PEMBAHASAN

PERSENDIAN ANGGOTA GERAK
BAGIAN ATAS

A.    Persendian
Persendian (artikulasi) adalah tulang yang satu berhubungan dengan tulang yang lain untuk membentuk rangka tubuh dengan struktur jaringan penyambung. Pada artikulasi terdapat cairan pelumas (cairan sinoval), otot dapat didekatkan pada tulang oleh jaringan ikat dinamakan tendon. Adapun jaringan penghubung antar tulang dinamakan ligamen. Berdasarkan pergerakannya, persendian dikelompokkan menjadi :
1.      Sinartrosis
Sinartrosis adalah persendian yang tidak memungkinkan terjadinya gerakan. Pada persendian ini, tulang-tulangnya dipersatukan oleh serabut jaringan ikat (sinartrosis sinfribosis)  atau oleh tulang rawan hiatin (sinartrosis sinkondrosis). Contoh sinartrosis sinfibrosis adalah hubungan antar tulang tengkorak, sedangkan contoh sinartrosis sinkrondrosis adalah hubungan antar tulang vertebra. 
2.      Ampiartrosis
Ampiartrosis merupakan persendian tulang dengan gerakan yang sangat terbatas. Contoh ampiartrosis adalah hubungan antar tulang rusuk dan tulang dada.

3.      Diartrosis
Diartrosis merupakan persendian yang menyebabkan gerakan bebas dan biasanya terjadi pada tulang-tulang panjang dan memiliki mobilitas cukup besar. Ujung-ujung tulang biasanya tertutup oleh tulang rawan, selain itu pada ujung tulang terdapat rongga sinoval yang berisi cairan sinoval untuk memudahkan gerakan. Hubungan antar tulang tersebut dibungkus oleh pembungkus jaringan fibrosa, hubungan diartrosis terbagi atas :
a.       Sendi Peluru
Sendi peluru merupakan persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan paling bebas. Sendi ini terdapat pada hubungan antar tulang lengan dan tulang belikat, serta hubungan tulang pinggul dan tulang paha.
b.      Sendi Putar
Sendi putar merupakan persendian yang menyebabkan gerakan berputar atau rotasi. Sendi ini terdapat pada pergelangan tangan, pergelangan kaki, hubungan antar tulang tengkorak dan tulang atlas, serta hubungan antara humerus dan radius serta ulna.
c.       Sendi Engsel
Sendi engsel merupakan persendian yang menyebabkan gerak satu arah. Sendi ini terdapat pada bagian lutut.
d.      Sendi Pelana
Sendi pelana merupakan persendian yang membentuk sendi seperti pelana. Sendi ini terdapat pada hubungan antara tulang telapak tangan dan tulang pergelangan tangan.
e.       Sendi Luncur atau Geser
Sendi luncur merupakan persendian yang melibatkan gerakan menggeser, satu tulang meluncur di atas tulang yang lain. Sendi ini terdapat pada ruas-ruas tulang belakang.

B.     Anggota Gerak Bagian Atas

Kerangka anggota atas dikaitkan pada kerangka badan dengan perantaraan gelang bahu yang terdiri atas klavikula dan skapula.

Ø  Klavikula atau tulang selangka adalah tulang yang melengkung yang membentuk bagian anterior gelang bahu.
Fungsi klavikula memberi kaitan kepada beberapa otot dari leher dan bahu dengan demikian bekerja sebagai penopang lengan.
Ø  Skapula atau tulang belikat membentuk bagian belakang dari gelang bahu dan terletak di sebelah belakang torax lebih dekat permukaan daripada iga. Bentuknya segitiga pipih dan memperlihatkan dua permukaan, tiga sudut dan tiga sisi. 
Dibawahnya terdapat tulang-tulang membentuk kerangka lengan-lengan bawah dan tapak tangan yang seluruhnya berjumlah 30 buah tulang.
o   Humeras ® tulang lengan atas
o   Ulna dan radius ® tulang hasta dan tulang pengumpul
o   8 tulang karpal ® tulang pangkal tangan
o   5 tulang metakarpal ® tulang tapak tangan
o   14 falanx ® ruas jari tangan

  1. Humerus
Humerus atau tulang lengan atas adalah tulang terpanjang dari anggota atas. Sepertiga dari atas ujung humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapula dan merupakan dari bangunan sendi bahu. Batang Humerus sebelah atas bundar, tetapi semakin ke bawah menjadi lebih pipih.
Ujung bawah humerus lebar dan agak pipih. Pada bagian paling bawah terdapat permukaan sendi yang dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terletak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong benag tempat persendian dengan ulna, dan di sebelah luar terdapat kapitulum yang bersendi dengan radius.
  1. Ulna
Ulna atau tulang hasta adalah sebuah tulang pipa yang mempunyai sebuah batang dan dua ujung. Tulang itu adalah tulang sebelah medial dari lengan bawah dan lebih panjang dari radius atau tulang pengumpil. Kepala ulna ada di sebelah ujung bawah.
Ujung atas ulna kuat dan tebal, dan masuk dalam formasi sendi siku. Prosesus olekranon menonjol ke atas di sebelah belakang dan tepat masuk di dalam fossa olekranon dari humerus. Prosesus koronoideus dari ulna menonjol di depannya, lebih kecil daripada prosesus olekranon dan tepat masuk di dalam fossa koronoid dari humerus bila siku dibengkokkan.

Batang ulna makin mendekati ujung bawah makin mengecil. Memberi kaitan kepada otot yang mengendalikan gerakan dari pergelangan tangan dan jari. Otot-otot flexor datang dari permukaan anterlor pronasi atau putaran ke depan, dan otot yang mengadakan supinasi atau putaran ke belakang dari lengan bawah juga dikaitkan kepada batang ulna.
Ujung bawah ulna kecil dibanding ujung atasnya. Dua eminens atau peninggian timbul di atasnya. Sebuah eminens kecil bundar, kepala ulna, mengadakan sendi dengan sisi medial dari ujung bawah radius dalam formasi persendian radio-ulnaris inferior. Sebuah prosesus runcing, prosesus stiloideus menonjol ke bawah dari belakang ujung bawah.

  1. Radius
Radius adalah tulang di sisi lateral lengan bawah. Merupakan tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung dan lebih pendep daripada ulna.
Ujung atas radius kecil dan memperlihatkan kepala berbentuk kancing dengan permukaan dangkal yang bersendi dengan kapitulum dari humerus. Batang radius di sebelah atas batangnya lebih sempit dan lebih bundar daripada di bawah dan melebar makin mendekati ujung bawah. Batangnya melengkung ke sebelah luar dan terbagi dalam beberapa permukaan, yang seperti pada ulna memberi kaitan kepada flexor dan pronator yang letaknya dalam di sebelah anterior dan sebeleah posterior memberi kaitan pada extensor dan supinator di sebelah dalam lengan bawah dan tangan. Ujung bawah agak berbentuk segiempat dan masuk dalam formasi dua buah sendi.

  1. Tulang Pergelangan Tangan dan Tangan
Tulang tangan disusun dalam beberapa kelompok. Karpus (tulang pangkal tangan) atau tulang yang masuk formasi pergelangan, adalah tulang pendek. Metakarpal membentuk ketangka tapak tangan dan berbentuk tulang pipa. Falanx adalah tulang jari dan berbentuk tulang pipa.
Karpus terdiri atas delapan tulang twersusun dalam dua baris, empat tulang dalam setiap baris. Baris atas tersusun dari luar ke dalam adalah berikut, navikular (skafoid), lunatum (semilunar), trikwetrum dan pisiform. Baris bawah adalah trapezium (multangulum mayus), trapezoid (multangulum minus), kapitatum, hamatum.
Navikulare (skafoid) adalah tulang berbentuk perahu, lunatum (semilunare) adalah berbentuk seperti bulan sabit dan dua tulang itu bersendi di atas dengan ujung bawah radius dalam formasi pergelangan dan di bawah brersendi dengan beberapa  dari tulang karpal dari barisan kedua. Supaya memudahkan menghafal : “Kapal di cahjaya bulanm nan terang berputar segitiga hingga Pulau kacang pulau besar segi banyak, pulau kecil segi banyak di kepala seharusnya kaitnya letak”.
Proximal :
Tulang bentuk kapal                ® os navikulare
Tulang bulan                           ® os lunatum
Tulang segitiga                        ® os triquetrum
Tulang kacang                         ® os pisiformis
Distal :
Tulang besar segi banyak        ® os multangulum mayus 
Tulang kecil segi banyak         ® os trikwetrum
Tulang berkepala                     ® os kapitatum
Tulang berkait                         ® os hamatum

Metakarpus terdapat lima tulang metakarpal. Setiap tulang mempunyai batang dan dua ujung, ujung yang bersendi dengan tulang kapal disebut ujung karpal dan sendi yang dibentuknya adalah sendi karpo-metakarpal. Ujung distal bersendi dengan falanx dan disebut kepala. Batang dari tulang ini adalah prismoidal (seperti prisma), dan permukaannya yang terbesar menghadap posterior (ke arah belaakang tangan). Otot interosa dikaitkan pada sisi-sisi batang. Falanx juga tulang panjang, mempunyai batang dan dua ujung. Batangnya mengecil di arah ujung distal. Terdapat empat belas falanx, tiga pada setiap jari dan dua pada ibu jari.

C.    Gangguan pada Sistem Gerak
Gangguan pada sistem gerak dapat terjadi jika ada gangguan pada tulang persendian atau otot. Gangguan pada sistem gerak akan menghambat tubuh dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
  1. Gangguan pada Tulang
Tulang dapat mengalami gangguan fisik, gangguan fisiologis, gangguan kedudukan tulang vertebrata dan persendian.
a.      Gangguan Fisik
Salah satu gangguan fisik pada tulang adalah terjadinya patah tulang (fraktura). Patah tulang pada anak-anak akan lebih cepat sembuh jika dibandingkan dengan orang tua. Tulang dapat mengalami keretakan menjadi beberapa bagian. Keadaan patah tulang yang disertai keluarnya bagian tulang menembus kulit dinamakan communided. Gangguan yang lain adalah greenstick, yakni patahnya tulang yang tidak mengalami pemisahan bagian tulang.
b.      Gangguan Fisiologis
Gangguan fifiologis dapat disebabkan oleh kelainan tubuh dalam menyerap vitamin atau kelainan fungsi hormon. Gangguan fisiologis akan diuraikan sebagai berikut.
Penderita rakitis biasanya memiliki tulang tibia dan fibula yang berbentuk huruf X atau O. Gangguan akibat kurangnya penimbunan zat kapur dan kalsium ketika proses pembentukan tulang dinamakan osteomalasia. Osteomalasia terjadi pada tulang secara umum, sedangkan rakitis khusus terjadi pada tulang kaki. Keduanya dapat disebabkan oleh kekurangan vitamin D.
Osteoporosis merupakan penurunan berat tulang karena lambatnya asifikasi dan terjadi penghambatan reabsorbsi bahan tulang. Keadaan ini dapat disebabkan oleh kelainan fungsi hormon parathormon.
Akromegali merupakan penyakit pada tulang panjang (tulang pipa) yang menebal. Penyakit ini disebabkan oleh kelebihan somatotropin yang bersifat lokal.
Hidrosefalus merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan pengumpulan abnormal cairan spinal dan terjadi pelebaran rongga dalam batok otak sehingga kepala membesar. Kelainan ini disebut juga megalosefalus. Sebaliknya, mikrosefalus merupakan penghambatan terhadap pertumbuhan tulang tengkorak sehingga ukuran kepalanya mengecil. Keadaan ini dapat disebabkan oleh abnormalitas hormon somatotropin atau hormon tiroksin.

c.       Gangguan Kedudukan Tulang Vertebrata
Pergeseran kedudukan tulang vertebra dapat mengubah bentuk rangkaian tulang vertebra. Hal tersebut umumnya disebabkan oleh sikap tubuh yang salah.
Keadaan tulang vertebra yang melengkung ke samping kiri atau kanan dinamakan skoliosis. Kelainan lain pada tulang vertebra adalah melengkungnya tulang punggung ke belakang, yang dinamakan kifosis. Lordosis merupakan kelainan tulang vertebra yang melengkung ke depan sehingga kepala tertarik ke belakang. Selain itu, ada kelainan yang dinamakan sublokasi, yakni perubahan lokasi tulang leher dari yang normal sehingga kedudukan kepala menjadi miring ke kiri atau ke kanan.

  1. Gangguan Persendian
Persendian dapat terganggu dengan terjadinya pergeseran tulang atau penyusun sendi. Contohnya adalah dislokasi dan ankilosis.
Dislokasi merupakan gangguan persendian yang disebabkan oleh perubahan kedudukan ligamen. Sementara itu, ankilosis merupakan gangguan persendian yang dapat disebabkan oleh pembengkakan kantung sinovil atau jaringan ikat pembungkus sendi. Ankilosis dapat juga disebabkan oleh akumulasi asam urat.
  1. Gangguan Pada Otot
Beberapa jenis gangguan pada otot adalah tetanus, kram, miastenia grafis, dan hernia inguinal. Tanda-tanda gangguan tersebut berbeda-beda. Keadaan otot yang mengalami rangsangan terus menerus sehingga mengalami ketegangan disebut kram. Hal ini juga dapat terjadi pada orang yang terinfeksi bakteri clostridium tetani sehingga dikatakan mengalami tetanus.
Apabila saraf mengalami kelumpuhan otot tidak akan berkontraksi. Akibatnya otot lama-kelamaan menjadi kecil (atrofi otot). Keadaan ini disebut miastenia grafis. Gangguan lainnya yang terjadi pada otot adalah hernia inguinal. Pada kelainan ini selaput rongga perut atau usus yang terbungkus selaput peritonium melorot, kadang sampai ke dalam skrotum atau sampai di lipatan paha. 













BAB III
KESIMPULAN

1.      ●  Persendian adalah tulang yang satu berhubungan dengan tulang yang lain untuk membentuk rangka tubuh dengan struktur jaringan penyambung.
●  Adapaun jaringan penghubung antar tulang dinamakan ligimen.
●  Berdasarkan pergerakannya, persendian dikelompokkan menjadi sinartrosis, amfiartrosis dan diartrosis.  
2.      Anggota Gerak Bagian Atas
a.       Humerus
b.      Ulna
c.       Radius
d.      Tulang Pergelangan Tangan dan Tangan
3.      Gangguan Pada Sistem Gerak
  1. Gangguan Pada Tulang
·         Gangguan Fisik
·         Gangguan Fisiologis
·         Gangguan Kedudukan Tulang Vetebra
  1. Gangguan Persendian
  2. Gangguan Pada Otot


DAFTAR PUSTAKA


Evelyn C. Pearce. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. PT. Gramedia Jakarta, 1985.

Mimin emi, Anatomi Manusia. STKIP, 2008

Oman Karmana. Biologi Untuk SLTA Kelas XI Semester I. Grafindo Media Pratama. Jakarta, 2008.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar